Perjuangan Dua Sahabat, Subhan-Hilman Meraih Gelar Doktor

Keterangan
1. Kuliah di Universitas Islam Sultan Agung Semarang ; Program Doktor (S3) Ilmu Hukum.
2. Mereka berdua ( Mokhammad Hilman ST , MT ; judul disertasi Rekonstruksi Norma Perjanjian Kontrak Kerja Konstruksi Di Pemerintahan yang berbasis Nilai Keadilan dan Ir Subhan Syarief , MT , judul disertasi Rekonstruksi Pemgaturan Sanksi Hukum kasus Kegagalan Bangunan dalam Jasa Konstruksi yang Berbasis Nilai Keadilan) ; Lulus dgn Cum Laude.

Semarang, KOKI

“Alasan kami berdua memasuki ranah hukum adalah agar ada orang yg berlatar belakang profesi teknik bisa juga mengetahui, memahami bahkan menguasai  hal hukum yang berkaitan dengan  konstruksi yang kebetulan masih tidak banyak ahlinya,” kata Subhan Syarief, Sabtu (10/10/2020).

Menurutnya, sehingga hal kasus hukum yang saat ini cukup banyak mendera pelaku jasa konstruksi dalam pembangunan infrastruktur fisik bs ada suatu saat orang teknik turut terlibat dalam melakukan penelaahan. Sehingga perlakuan hukum bagi pelaku konstruksi bisa lebih profesional dan berkeadilan. ” Ya,denganstatus Doktor di bidang hukum akan semakin memperkuat peran subhan syarief yang juga telah terdaftar sebagai salah satu arbiter yang telah lulus ujian nasional dan berhak bertugas untuk menanggani kasus sengketa konstruksi,” tambahnya.

Mereka jebolan magister teknik kerjasama Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dengan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, kini dua sahabat Subhan Syarief dan Mokhamad Hilman, kembali meraih gelar doktor hukum.

Kali ini, keduanya mampu mempertahankan disertasi S3 untuk program mahasiswa doktoral di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang dengan raihan lulusan banyak pujian alias cum laude, pada Jumat (9/10/2020).

Dalam ujian terbuka via virtual, baik Subhan Syarief yang merupakan Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Kalsel dan Mokhamad Hilman, Sekretaris Daerah Kabupaten Banjar ini bisa lulus dengan cum laude. Keduanya pun mendapat pujian dari para promotornya.

Keduanya pun, kini berhak menempatkan gelar doktor di depan namanya. Ini setelah, Hilman yang merupakan lulusan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat dan pasca sarjana ITS Surabaya dan Subhan Syarief yang lulus dari Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang dan ITS Surabaya ini, cukup lama menyandang gelar magister teknik.

Hilman sendiri berhasil mempertahankan disertasi berjudul Rekonstruksi Norma Perjanjian Kontrak Kerja Konstruksi di Pemerintahan yang Berbasis Nilai Keadilan. Sedangkan, rekannya, Subhan Syarief mengupas dalam disertasi bertajuk Rekonstruksi Pengaturan Sanksi Hukum Kasus Kegagalan Bangunan dalam Jasa Konstruksi yang Berbasis Nilai Keadilan.

Subhan menambahkan, dirinya bersama Hilman sama-sama dibesarkan di disiplin ilmu teknik. Subhan merupakan lulusan arsitektur dan salah satu pendiri Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Kalsel. Sedangkan, Hilman merupakan sarjana teknik (insinyur) di bidang teknik sipil.

Kenapa mengambil doktor hukum, bukan doktor di bidang teknik agar linier? Menurut Subhan, alasan mereka berdua memasuki dan mendalami disiplin ilmu hukum agar ada orang yang berlatar belakang teknik bisa juga mengetahui, memahami bahkan menguasai ilmu hukum.

“Tentu saja, ilmu hukum ini terkait dengan dunia konstruksi yang kebetulan masih tidak banyak ahlinya. Khususnya, doktor hukum konstruksi,” papar Subhan.

Bagi mantan Ketua DPP Intakindo dan Inkindo Kalsel ini, banyak kasus hukum yang saat ini mendera pelaku jasa konstruksi dalam pembangunan infrastruktur fisik.

“Dengan begitu, kami berdua yang berbasis teknik dan mendalami hukum konstruksi, suatu saat orang teknik yang turut terlibat dalam melakukan penelaaah, baik kebijakan maupun berkait kasus hukum,” papar Subhan.

Harapan arsitek senior ini adalah adanya perlakukan bagi pelaku konstruksi bisa lebih profesional dan berkeadilan.

“Apalagi, terkhusus saya yang kebetulan juga dalam satu arbiter yang lulus ujian nasional. Jadi, bisa bertugas ketika menangani kasus sengketa konstruksi,” imbuhnya.(jjr/koki)

Tinggalkan Balasan